Sunday, May 3, 2009

Ruang Hampa

| | 0 comments
Ruang Hampa

kutatap sekeliling saat aku menginjakkan kaki diruang hampa,rumahku.hanya ada setangkai bunga mawar layu diatas meja dan bingkibingkai kehidupan di dinding itu,ntah siapa yang meletakkannya.ketatap lagi ruang hampa yang sudah hampir 18 tahun aku tempati.tidak banyak yang berubah,hanya aku yang berubah,rumah ini pun tidak menyusut harganya,tidak berubah.

kulangkahkan kaki menuju ruang hampa lainnya dan kudapati seutas tikar disudut kamar itu,kamarku.kamar yang sangat cukup luas untuk aku,untuk jiwaku.kurebahkan sejenak badan ini,terlalu lelah rasanya.diatas tikar ini,selalu aku meneteskan air mataku,mengungkapkan kepedihanku.ahh,sudahlah,p
erutku terlalu lapar untuk dapat memejamkan mata.

kubuka baju,dan berjalan lurus melewati daun pintu menuju ruang hampa lainnya.hanya terlihat arang dan abu.dapurku.sejenak aku melihat abu itu terbang,ruang hampa ini seakan berteriak,memelas minta dikasihani.bukan masalah,mereka memelas kepada orang yang juga sengsara.kuhidupkan arangku,dan kubakar semua gemuruh kesedihan,tidak kurasa lagi kesedihan,dan tidak pernah kurasakan kepedihan didalam ruang ini.kuletakkan batubatu kedalam pancipanciku.dan kumakan semua batubatu umpatan tentang hidup,yang mereka bilang hidup itu indah.kenyang sudah perutku ini.memang selalu aku yang termakan cacimaki,namun aku bukanlah hina,karena aku berbeda,aku terendahkan dihadapan manusia karena mereka percaya,bahwa aku gila.sungguh sinting mereka,menganggap aku gila.

kali ini,kutangkap suara bocahbocah bermain disamping jendela kamarku.kuperhatikan tawa mereka,dan kucoba mengartikan apa yang mereka coba rasakan.tawa mereka sungguh buas,mengartikan mereka sedang senang dengan apa yang mereka lakukan.sejak pertama kali kulihat mereka tertawa,semakin terhina aku.kulihat tawa tipis seorang gadis yang sedang melewati kumulan bocahbocah itu.terbayang olehku,gadis itu.senyum tipisnya mengartikan dia pernah ada ditempat itu,dipermainan yang sama,namun waktu yang berbeda.semakin kuperhatikan kegiatan bocahbocah itu,hingga ketika mereka menatapku.mereka terpaku.

aku berkata kepada hatiku,"aku dibunuh,karena aku melihat."

sudah hilang sore,kini gelap menjamah seluruh ruang hampa ini.dalam gelap,kupejamkan mataku,diatas anyaman tikar disudut kamarku.kucoba menyerang gelap,dengan bantuan kegelapan.tidak kudapati sinar yang dapat membawaku pulang ke alam sadarku.hingga tetesan badai datang,menghinggapi kelopak mataku.hujan.dini hari,hujan hadir untuk menghangatkan kerinduanku.kerinduan akan dahagaku.hujan kini melepaskan dahagaku,tidak lagi kurasakan haus,tidak lagi kurasakan panas dalam,aku menangis.

tetesan terakhir sudah kutampung,dan sudah kubuatkan teh untuk pagi ini.terlalu pagi sebenarnya.pas disaat ayam berkokok.kuseduh teh yang tawar ini,hangatnya membangkitkan semangatku.kubersihkan seluruh sisi ruang hampa ini.semata kaki tingginya.ya,rumahku.pagi yang sangat indah,tanpa senyum,hanya ada aku dan teh tawar.

kurasakan percikan sinar mentari diatas kepalaku.dari bibir jendela kamarku kulihat mentari pagi,kuperhatikan setiap jangkauan sinarnya.jauh hingga keselasela anyaman tikarku dan kedalam rusukku.kutarik nafas dalam,kurasakan angin sepoi,dan kuberhentikan waktu.debudebu berterbangan terhenti sejenak,kurasakan isi hidupku,dan kurasakan isi dunia ini,sejenak.tersentak aku,akan langkah kaki yang mendekatiku,yang secara responsoria terdengar olehku,karena ruang hampa yang membuat gema selalu bernada metal.

0 comments:

Followers

 
Twitter Facebook Tumblr Last FM Flickr