Sunday, May 3, 2009

sudah saatnya aku untuk berkata,bosan.setan.kalian
.
bukan aku berdiam,aku hanya berpikir.
lalu mengapa kau anggap aku terdiam?
anjing!
buat apa kau berkata jika katakatamu hanya sampah!
tak perlu berorasi kalau hanya berisi janjijanji basi!
babi!

"Yang rapih berdasi menopengi mutilasi pembebasan dengan sengkarut argumen basi tentang bagaimana menyamankan posisi pembiasaan diri di hadapan seonggok tinja para sosok pembaharu dunia bernama pasar bebas dan perdagangan yang adil",Homicide - Barisan Nisan
_________________________

kini terhitung darah,hingga darah penghabisan.terhitung sudah tetes airmata ,hingga kering riak mataku.dan telah kuhisap nadi ini,hingga titik nadir terakhir.

aku disini menyapa pagi dengan datar.membuka hari,hampa.karena hari ini pagi begitu kelam.tidak ada mentari,tidak ada kicauan merpati.
pagi ini.aku menangisi prahara.duduk terdiam tanpa segelas kopi dimejaku.dan engkau.
disampingku hanya angin,yang silih berhembus tanpa hati.mengibaskan rambutku,membawamu jauh.entah mengapa.
dan aku.kini hanya bisamelihat.melihat semua yang terjasi.satu,satu,satu.
kurindukan embun pagi.yang tidak hilang hingga senja.seperti itu,aku merindukanmu.untuk selalu ada disisiku,hingga senja menjemput nafasku.
dan lembah menahan ragaku.
ya.aku bukan apa dan bukan siapa

aku yang terus melangkah
menuju kelamnya kesepiaan,hari lewati hari

bukan itu engkau,bukan itu aku,itu perbedaan
namun itu juga adanya,tanpa muluk

sekilas,hari terhapuskan hanya dengan tawa yang menipu
senyum yang hambar,tanpa candamu
tanpa detik yang pernah kita lewati,berdua

itukah detikdetik kehidupan?
Dinding Dimensi

kuberlari,memecah angin dan memecah keheningan rumah yang sepi.kuberharap bisa terbang kebintang,memetik mereka,dan membawa mereka kerumahku.agar mereka menerangi malamku serta selongsong hatiku yang kian kelam.apa yang dibawakan angin kemataku tidak akan mungkin bisa kuterbangkan kembali.kubiarkan masa demi masa menata kejamnya harihariku,agar aku tenang jika maut menjemputku.

terpesona aku melihat dindingdinding ini.tertutup rapat tanpa cela.entah apa yang menghantui pikiran ini,terus menatap,dan terus mencoba untuk memecahkan misteri dibalik semuanya ini.
seperti aku dapat melihat,kulihat jelas setiap bagianbagian didinding itu,satu per satu,sisi per sisi.ya,inilah dinding dimensi waktuku.tersenyum sejenak.

tersenyum seketika.semua tergambar.titik demi titik dan akhirnya memenuhi setiap bingkai kehidupan.seperti cermin aku hanya menemukan aku yang sama.tapi kali ini beda,aku,bukan aku yang kini.aku ada di dimensi waktu.ya.kini aku tidak sendiri,aku,dia,dia,dan dia.suatu kebersamaan yang indah.aku terangkat dari bumi,terbang,berputar,dan tertawa.indahnya.itulah awal.

hanya seketika aku menatap,kini aku berpindah pada bingkai yang lain.aku,dia,dia,dan dia.hanya aku,dia,dia,dan dia.hitamhitam,semuanya hitam,entah apa maksudnya itu.akupun bingung.aku hanya bisa menangis,menangis,karena mereka semua berpakaian hitam.dan dia,terdiam,membisu tanpa raut wajah.pasi terpancar dari wajahnya,hambar sepertinya.kenapa ini,ada apa?dikotak itu,dia.dingin kurasa mata dan pipiku,hingga kebibir.

sudahlah,itu sudah berlalu.lalu apa?kini ada aku,dia,dia,dan dia.siapa dia yang tampak dikejauhan?dengan muka penuh makna.dan kenapa dia tidak menatap tepat kedepan?tidak kulihat tawa di bibirku dan dia yang menatap kedepan.padahal ini adalah saatsaat yang biasanya kami lewati dengan tawa.ohh,aku terjerat.aku dan dia terpuruk dan terjatuh.tanpa dia yang menghilang ditutup bumi.aku hanya bisa menatap murka bingkai ini.dan disinilah akhir.

hanya aku.dia,dia,dan dia yang lain telah pudar,terhapus angin kota.aku disini,terendap bersama dia yang tertutup bumi,di ruang ini.aku tersadar,dan kembali kemasa dimana aku kini berdiri serta diam terpaku.tidak ada senyum namun tidak juga ada tangis.datar.

berbalik aku,hanya ada nada.
Ruang Hampa

kutatap sekeliling saat aku menginjakkan kaki diruang hampa,rumahku.hanya ada setangkai bunga mawar layu diatas meja dan bingkibingkai kehidupan di dinding itu,ntah siapa yang meletakkannya.ketatap lagi ruang hampa yang sudah hampir 18 tahun aku tempati.tidak banyak yang berubah,hanya aku yang berubah,rumah ini pun tidak menyusut harganya,tidak berubah.

kulangkahkan kaki menuju ruang hampa lainnya dan kudapati seutas tikar disudut kamar itu,kamarku.kamar yang sangat cukup luas untuk aku,untuk jiwaku.kurebahkan sejenak badan ini,terlalu lelah rasanya.diatas tikar ini,selalu aku meneteskan air mataku,mengungkapkan kepedihanku.ahh,sudahlah,p
erutku terlalu lapar untuk dapat memejamkan mata.

kubuka baju,dan berjalan lurus melewati daun pintu menuju ruang hampa lainnya.hanya terlihat arang dan abu.dapurku.sejenak aku melihat abu itu terbang,ruang hampa ini seakan berteriak,memelas minta dikasihani.bukan masalah,mereka memelas kepada orang yang juga sengsara.kuhidupkan arangku,dan kubakar semua gemuruh kesedihan,tidak kurasa lagi kesedihan,dan tidak pernah kurasakan kepedihan didalam ruang ini.kuletakkan batubatu kedalam pancipanciku.dan kumakan semua batubatu umpatan tentang hidup,yang mereka bilang hidup itu indah.kenyang sudah perutku ini.memang selalu aku yang termakan cacimaki,namun aku bukanlah hina,karena aku berbeda,aku terendahkan dihadapan manusia karena mereka percaya,bahwa aku gila.sungguh sinting mereka,menganggap aku gila.

kali ini,kutangkap suara bocahbocah bermain disamping jendela kamarku.kuperhatikan tawa mereka,dan kucoba mengartikan apa yang mereka coba rasakan.tawa mereka sungguh buas,mengartikan mereka sedang senang dengan apa yang mereka lakukan.sejak pertama kali kulihat mereka tertawa,semakin terhina aku.kulihat tawa tipis seorang gadis yang sedang melewati kumulan bocahbocah itu.terbayang olehku,gadis itu.senyum tipisnya mengartikan dia pernah ada ditempat itu,dipermainan yang sama,namun waktu yang berbeda.semakin kuperhatikan kegiatan bocahbocah itu,hingga ketika mereka menatapku.mereka terpaku.

aku berkata kepada hatiku,"aku dibunuh,karena aku melihat."

sudah hilang sore,kini gelap menjamah seluruh ruang hampa ini.dalam gelap,kupejamkan mataku,diatas anyaman tikar disudut kamarku.kucoba menyerang gelap,dengan bantuan kegelapan.tidak kudapati sinar yang dapat membawaku pulang ke alam sadarku.hingga tetesan badai datang,menghinggapi kelopak mataku.hujan.dini hari,hujan hadir untuk menghangatkan kerinduanku.kerinduan akan dahagaku.hujan kini melepaskan dahagaku,tidak lagi kurasakan haus,tidak lagi kurasakan panas dalam,aku menangis.

tetesan terakhir sudah kutampung,dan sudah kubuatkan teh untuk pagi ini.terlalu pagi sebenarnya.pas disaat ayam berkokok.kuseduh teh yang tawar ini,hangatnya membangkitkan semangatku.kubersihkan seluruh sisi ruang hampa ini.semata kaki tingginya.ya,rumahku.pagi yang sangat indah,tanpa senyum,hanya ada aku dan teh tawar.

kurasakan percikan sinar mentari diatas kepalaku.dari bibir jendela kamarku kulihat mentari pagi,kuperhatikan setiap jangkauan sinarnya.jauh hingga keselasela anyaman tikarku dan kedalam rusukku.kutarik nafas dalam,kurasakan angin sepoi,dan kuberhentikan waktu.debudebu berterbangan terhenti sejenak,kurasakan isi hidupku,dan kurasakan isi dunia ini,sejenak.tersentak aku,akan langkah kaki yang mendekatiku,yang secara responsoria terdengar olehku,karena ruang hampa yang membuat gema selalu bernada metal.
"aku menjadi hujanhujanan tawa,menjadi barabara amarah,dan debudebu harapan."

otak ini terus berlari dan berlari,tanpa tujuan,lagi dan lagi,tanpa tujuan.mengapa aku terus berpikir tentang hal yang merebahkan kakikakiku di trotoar jalan.yang mendesak aku untuk menyusuri kelamnya cinta (jangan cinta dulu deh).dan ketika aku menyisir sisi demi sisi akan hal itu,otakku memecahkan kelam itu,dengan teriakanteriakan basi "masih banyak cewek didunia".kini,mataku terpejam.terbawa angin malam kealam bawah sadar yang penuh imajinasiimajinasi hampa yang terkadang kita artikan iniituiniitu.terlalu pantas tubuhku ini untuk ada dalam sebuah kerajaan imajinasi.karena apa?karena aku itu tidak bisa hidup dengan harapanharapan!setidaknya,
sudah dua kali aku beritahu orang kalau "ketika harapan datang,asa ada,dibelakangnya!",satu di Femi dua di Yoga.imajinasi itu seperti doping penyemangat dalam olahraga (jadi ngawur).dan ketika ku menyadari kalau aku tertidur,kuangkat ragaku kembali kehari,aku terbangun.

tidak banyak yang aku pahami tentang satra,tapi aku coba memahami setiap bait per bait,setiap nada demi nada.yang aku suka,Gurindam Dua Belas,walau kini aku sudah tidak tau apa isinya.paling tidak aku mengerti apa artinya ketika aku mengetahui isinya,yeah,hahaha.

setiap kalimat yang ku angkat menjadi perkataan tidak ada yang benar.semua itu adalah muslihat lidahku.tipudaya otak.percaya atau tidak,tapi itu selalu mempunyai arti,perasaanku.perlahan aku mencoba untuk menghentikan jalannya katakata indah yang dapat melambungkan hati.aku membuat guagua-ku sendiri,untuk mengukir katakataku.mengukir dengan perasaan.karena aku pemalu dan aku tidak mengenakan pakaian,maka dari itu aku tidak ingin dengan mudah orangorang mengerti apa yang aku rasakan.rasa cape' yang tidak ada matinya.karena kakiku hilang.

"aku terkontaminasi akan hidup yang terus dikejar bayangbayang imajinasi.dalam imajinasi,aku bermain tentang hidup.dalam hidupku,aku mati.dalam kematianku,aku akan abadi"

ternyata terlalu singkat untuk aku sampaikan kalau aku bukan apaapa,karena aku tidak apaapa,dan ada apaapa dibalik semua ini.aku mencoba untuk terus dapat menyangkutkan hurufhuruf yang tidak beraturan ini.aku ulang setiap kalimat dan kuhapus untuk sejenak.kenapa aku melakukan ini?apa yang seharusnya aku lakukan kedalam harihariku?

terus,kucoba lagi.kali ini aku menyebrangkan hari ini kemasa lalu.kesaat dimana aku merasakan aura kasih,tawa sutra,dan tentang cita (WSATCC).disaat aku bisa meluangkan tawaku disetiap detik yang aku lalui.terbayang sosoksosok hitam didinding kamarku.hitam,tapi aku tau siapa itu.tidak mungkin dapat kulupakan.kulihat tawanya,dan aku menangis.ditetesan pertama,ada pelangi yang kulihat,aku menetesakan yang kedua,kutatap senyumnya,dan kali ini benarbenar kutangisi masa itu.kugapai dinding itu,dan berbisik.

"hari ini.hariku dan bayangan."

kuberhentikan bus kota yang akan membawaku pulang kerumah,tapi kakiku hilang.biarlah,kutinggalka
n kakiku,dan kunaiki bus kota itu.dari dalam bus itu,dapat kulihat dindingdinding kosong diterowongan itu penuh dengan coretan vandalisme.



sudahlah!
berhenti berideologi.
aku,terdiam disini.
dan kau sebut aku kafir.
kau sebut aku penghianat pikiranmu.
betapa hinakah aku kasih?

kasih.
tanggalkanlah dulu sementara jiwamu.
biarkan ragamu menari.
bersenandung bersamaku.
menyanyikan lagulagu kemesraan kita berdua.
dan biarkan aku dan ragamu hanyut dalam malam.
hingga ayam jantan tebangun oleh nyanyianku.

kasih.
tidakkah kau tau,
aku disini hanya ingin menghadiri euforia cinta.
dan sayang yang dulu telah meng-kontaminasi-kan kita.
aku dan kau.

Followers

 
Twitter Facebook Tumblr Last FM Flickr