I bought a film camera that still have an exposed roll inside, so i thougt it's kinda fun to have it developed. and voila, i developed the film, here some photos taken with the camera by the owner of the camera that i bought.
i am thinking of posting more film that i found here !
the camera is Canon EOS 300 with Superia 200
ps : if any of you know the person i would love to give them the photos file, contact me.
So here i am again, after looked at my last photos that captured by Recesky camera.
I wondering why i sold my very first recesky camera long time ago and why i bought another one to keep it. The only reason is because it is always good to have some cute little piece of camera that give you some good unexpected results in the end. You will never know what you get till the film developed, this is a common sense of using film camera, but not with recesky. You will never know what you get till you realized that photos taken by recesky camera and you are amazed or disappointing with the result and then you keep saying in your head "this is just a recesky camera, yeah, that's all."
Recesky
Ultrafine Extreme 400
I wondering why i sold my very first recesky camera long time ago and why i bought another one to keep it. The only reason is because it is always good to have some cute little piece of camera that give you some good unexpected results in the end. You will never know what you get till the film developed, this is a common sense of using film camera, but not with recesky. You will never know what you get till you realized that photos taken by recesky camera and you are amazed or disappointing with the result and then you keep saying in your head "this is just a recesky camera, yeah, that's all."
Recesky
Ultrafine Extreme 400
Jika kemarin saya sempat mencoba mengulas sedikit album Fateh milik MV x DJ Still, kali ini saya akan mencoba memberikan sedikit bocoran tentang 2 album rilisan ulang 2 band favorit saya yaitu The Upstairs dengan Antah Berantah dan The Milo dengan Let Me Begin. Kedua band ini adalah band pionir di masa jayanya, kedua band cukup besar di ranah musik indie masing-masing kotanya dan tentunya suatu kebanggaan dapat memiliki sebuah rilisan fisik dari kedua band yang walaupun itu hanya sebuah rilisan ulang.
Pertama mungkin bisa kita mulai dengan The Upstairs yang mana saya cukup mengenal mereka saat SMA dengan album Matraman dan Energy. Jujur, untuk album Antah Berantah saya tidak mengikuti band ini, yang mana mungkin ketika itu band ini tidak menggema sampai kekota saya menuntut ilmu, Tanjung PInang. Ketika itu saya mengenal The Upstairs dengan musiknya yang unik terlebih lagi dengan liriknya yang tidak enak dibaca seperti "apakah aku berada di mars atau aku mengundang orang mars". The Upstairs sendiri di album ini memiliki lirik yang aduhai tapi dalah hal judul lagu, tidak semenarik album selanjutnya, hanya Mosque of Love yang sedikit berbeda dari sebuat idiom sehari-hari. Dialbum rilisan ulang ini sendiri hanya terdapat cover album dan sebuah liner note dari Jimi yang dalam liner note tersebut memberi tahu kalau cover album rilis ulang ini dibuat oleh istrinya Kubil.
Dalam hal rilisan ulang, mungkin ini sebuah hasil rilisan yang baik dengan kualitas suara yang sempurna, namun tidak pada paketannya, hanya dibungkus kotak CD biasa dengan cover album, liner note, dan back cover. Saya sendiri tidak begitu mengetahui bagaimana bentuk rilisan awal pada album Antah Berantah ini, namun untuk sebuah rilisan ulang yang sudah dikerjakan sebuah tim label mungkin ada baiknya packaging album ini lebih luas. Kalau kita baca dari liner note album ini, dijelaskan bagaimana sebuah album (yang mungkin dadakan) tercipta, dengan jerih payah para personilnya dan peralatan yang minimalis serta bantuan beberapa teman, wajar jika saat album ini pertama keluar tidak terbungkus dengan rapi (yang mana saya jelaskan lagi kalau saya sendiri tidak tau bagaimana bentuk rilisan fisik pertama). Untuk sebuah album rilisan ulang, album ini pasti memberikan sebuah nostalgia bagi banyak orang yang pernah melewati masanya. Bagi sebagian orang mungkin ini sebagai pelepas hasrat rasa ingin memiliki sebuah rilisan fisik diidolakan namun tak pernah punya kesempatan memilikinya pada saat mereka melepas album tersebut.
Untuk album rilisan ulang Let Me Begin milik band dreampop The Milo tidak lebih baik dari album Antah Berantah. Dialbum ini, bonus track adalah benar-beran nilai lebih yang diberikan pada rilisan ulang ini. Pada kualitas album sendiri mungkin masih sama, tapi untuk bungkus album ini ? kurang lebih sama seperti Antah Berantah. Dibungkus kertas dan secarik kertas liner note 2002 dibaliknya ada lirik lagu. Masih seperti yang sebelumnya, saya sendiri mengenal The Milo mungkin pada saat setelah lulus SMA ketika itu saya mendengarkan beberapa lagu seperti Malaikat, Dunia Semu, Lolita. Dan tentunya saya tidak mempunyai kesempatan untuk memiliki rilisan fisik yang menyebabkan saya mencoba untuk memilikinya pada rilisan ulang ini. Berkesempatan untuk melihat mereka live di Singapura merupakan salah satu momen terbaik dalam hidup saya dan memiliki rilisan fisik ini juga melengkapi kesenangan diri bagi saya.
Mungkin terdengar "apaan sih ni orang", tetapi saya sendiri mengejar beberapa rilisan ulang band-band yang saya senangi yang tidak sempat saya miliki. Berkesempatan memiliki 2 album rilisan ulang milik Homicide. Menurut saya begitulah seharusnya sebuah album rilisan ulang, dikemas dengan baik serta memberikan pencerahan baru didalam rilisan ulangnya tidak seperti rilisan awal yang mungkin dikerjakan secara personal sehingga tidak menciptakan sebuah rilisan yang sempurna. Atau mungkin juga itu dikerjakan dengan waktu yang lama, tidak sekedar mengejar pekerjaan momen tertentu.
Tetap, saya berterima kasih telah memproduksi rilisan ulang album-album band-band yang saya senangi. Terima kasih turut memuaskan hasrat ingin memiliki rilisan fisik band-band favorit.
Kalau sebelumnya aku ngepost Diatas Air yang mana ketika itu aku memfoto foto-foto tersebut ketika berada diatas air didalam sebuah Boat Pancung, kali ini foto-foto diatas gedung yang mana saya memoto foto-foto ini dari atas ketinggian sehingga menhasilkan foto cityscape Kota Batam beserta gedung-gedungnya dan tatanan kotanya.
Berkesempatan menaiki salah satu gedung tertinggi di Kota Batam tak membuat saya lupa untuk menggunakan momen tersebut, kebetulan gedung ini terletak dijantung kota sehingga sangat memberikan kepadatan kota yang penuh sesak dengan sekumpulan dinding-dinding bata. Dapat terlihat ruko-ruko bertebaran, memang Batam termasuk salah satu kota yang berkembang sangat pesat tak pelak juga meningkatkan pembangunan. Batam sendiri sering disebut lautan ruko dengan banyaknya ruko yang bertebaran ditiap sudut kota baik itu yang berpenghuni maupun yang tidak berpenghuni. Dapat terlihat juga beberapa gedung tinggi, terdiri dari hotel maupun apartemen. Batam merupakan kota ketiga yang jumlah wisatawannya terbanyak di Indonesia setelah Bali dan Jakarta tak heran jika banyak hotel-hotel berdiri dititik-titik keramaian kota. Mulai dari kelas hotel melati maupun hotel berbintang, dapat dengan mudah ditemukan disini baik itu hotel kelas bisnis yang terbuat dari gabungan ruko maupun resort-resort kelas internasional. Namun pula itu tidak sejenak membuat Batam lebih baik dari kota-kota lain di Indonesia alias kebanyakan ngetik fotonya ngak ada.
Berkesempatan menaiki salah satu gedung tertinggi di Kota Batam tak membuat saya lupa untuk menggunakan momen tersebut, kebetulan gedung ini terletak dijantung kota sehingga sangat memberikan kepadatan kota yang penuh sesak dengan sekumpulan dinding-dinding bata. Dapat terlihat ruko-ruko bertebaran, memang Batam termasuk salah satu kota yang berkembang sangat pesat tak pelak juga meningkatkan pembangunan. Batam sendiri sering disebut lautan ruko dengan banyaknya ruko yang bertebaran ditiap sudut kota baik itu yang berpenghuni maupun yang tidak berpenghuni. Dapat terlihat juga beberapa gedung tinggi, terdiri dari hotel maupun apartemen. Batam merupakan kota ketiga yang jumlah wisatawannya terbanyak di Indonesia setelah Bali dan Jakarta tak heran jika banyak hotel-hotel berdiri dititik-titik keramaian kota. Mulai dari kelas hotel melati maupun hotel berbintang, dapat dengan mudah ditemukan disini baik itu hotel kelas bisnis yang terbuat dari gabungan ruko maupun resort-resort kelas internasional. Namun pula itu tidak sejenak membuat Batam lebih baik dari kota-kota lain di Indonesia alias kebanyakan ngetik fotonya ngak ada.
BW
Nikon AF600
Indiefilmlab Silvergrain
diambil dari Hotel Planet
Warna
Minolta 300si
Minolta af 20-35mm f3.5-5.6
Agfa Vista 400
diambil dari tower Masjid Jabal Arafah














